Puluhan Warga Tolak Pembangunan Sodetan di Sungai Ciujung

Puluhan Warga Tolak Pembangunan Sodetan di Sungai Ciujung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net-Serang Raya

Karena dinilai bakal berdampak serius terhadap kehidupan sosial masyarakat dan merusak eksositem air, bahkan bisa mengundang banjir, masyarakat Pontang – Tirtayasa menolak pembanguan sodetan di wilayah Sungai Ciujung.

Hal tersebut mengemuka saat berlangsung audiensi warga dengan  perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Ciujung, Cisadane, dan Cidurian (BBWSC3) dan pihak Pemkab Serang

Kegiatan yang dilaksanakan di aula Kecamatan Pontang Kabupaten Serang, pada Rabu (08/09/2021) tersebut dimulai pukul 14.00 hingga 16.00 dan berlangsung agak memanas.

Kegiatan audiensi ini merupakan tindak lanjut dari masyarakat dalam upaya menolak pembangunan sodetan yang telah berjalan di Kampung Puser, Desa Samparwadi, Kecamatan Tirtayasa.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh masyarakat dari berbagai kalangan dan dua narasumber perwakilan dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciujung, Cisadane, dan Cidurian (BBWSC3) dan pihak Bupati Serang. Namun dalam pelaksanaannya, Bupati Serang tidak menghadiri pertemuan ini.

Baca juga  Gelar Rakernas ke VII, APGI Siap Pulihkan Ekonomi Wisata Pasca Pandemi

Dalam audiensi tersebut, kurang lebih lima orang masyarakat menyampaikan aspirasi penolakannya terhadap pembangunan sodetan di wilayah Sungai Ciujung.

Seperti dilansir portal Ngewiyak com, warga tetap memutuskan untuk menolak Pembangunan Sodetan di Wilayah Sungai Ciujung, meskipun narasumber dari BBWSC3 mencoba memberikan tanggapan atas aspirasi masyarakat.

Pada pertemuan tersebut, pihak BBEWSC3 menyampaikan, bahwa bukanlah instansi yang dapat memutuskan kebijakan tersebut, namun seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat akan dilaporkan ke Pemkab Serang untuk ditindaklanjuti.

Perwakilan warga, Khalid, pada kegiatan tersebut menyatakan dengan tegas, bahwa masyarakat sudah berkali-kali melakukan audiensi. Karenanya, tak lagi mau mendengar alasan apa pun dari pihak pemerintah.

“Penolakan kami jelas sangat berdasar. Selain banyak dampak buruk yang akan terjadi, pembangunan sodetan di wilayah Sungai Ciujung ini tidak melalui proses prosedural yang baik (mal administrasi), karena pemerintah tidak melakukan sosialisasi kepada kami,” ungkap Khalid.

Baca juga  Kapolri Terbitkan Izin Liga 1 dan Liga 2 Dengan Prokes Ketat

Khalid menegaskan, harapan masyarakat hanya satu, tolak dan hentikan total pembangunan sodetan. Audiensi hari ini baru, pembuktian kebenaran secara formil, bukan pembuktian materil. Bahwa masyarakat menolak pembangunan itu dan pihak BBWSC3 menanggapi penolakan.

“Kami ingin segala yang telah disepakati hari ini secara formil segera ditindaklanjuti dengan pemberhentian secara materil di atas kertas. Kemudian, kami juga ingin pembangunan yang tengah berlangsung segera diberhentikan, kerusakan yang ada, segera dibereskan,” imbuh Khalid

Senada dengan Khalid, warga lainnya menyampaikan, bila pemerintah ingin mengambil air, lebih baik mencari tempat (sungai) lain yang belum tercemar.

“Kami minta pemerintah membatalkan seluruh proses sodetan yang telah berlangsung yang dampaknya sudah kami rasakan, meskipun pembangunan belum selesai. Seharusnya pemerintah menyelesaikan problem tercemarnya sungai Ciujung, yang sudah berlangsung selama tiga puluh tahun bukan malah menambah masalah. Permintaan kami hanya satu, tutup total pembangunan sodetan!” ujar salah satu peserta audien.

Ma’rifat Bayhaki, Ketua Forum Mahasiswa Pontirta menambahkan, warga menolak adanya pembangunan sodetan, karena hal itu akan mempengaruhi keadaan lingkungan dan pola kehidupan sosial masyarakat.

Baca juga  Polres Serang Kota Tangkap Dua Penadah Batre Tower

“Disini, kita melihat sungai itu ibarat ibu yang menghidupi masyarakat, jadi jangan diganggu dong! Kasihan anak-cucu kami nanti,” tutur Ma’rifat.

MoU Penolakan

Kegiatan audiensi ditutup dengan penyerahan dokumen MoU, yang berisi tiga tuntutan penolakan pembangunan sodetan oleh masyarakat, kepada pihak BBWSC3.

Meski awalnya proses tersebut berlangsung sedikit ricuh, lantaran pihak BBWSC3 tidak ingin menandatangani dokumen, akhirnya dokumen MoU tersebut berhasil ditandatangani.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!