Pemuda Disandera Kepentingan; Sebuah Refleksi 93 Tahun Sumpah Pemuda

  • Whatsapp

Sabdanews.net, Opini – Sejarah panjang bangsa ini tidak terlepas dari peran pemuda sebagai aktor utama. Memberikan andil yang begitu besar dalam merumuskan cita-cita bangsa.

93 tahun yang lalu, para pemuda menjadi pelopor persatuan nasional yang dirumuskan ke dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan: Indonesia. Itulah butir dari sumpah pemuda.

Bacaan Lainnya

Sumpah pemuda tercetus dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928. Saat itu, kongres dihadiri oleh kaum muda lintas suku, agama, dan daerah. Yang pada akhirnya, berimplikasi mendorong lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada 17 Agustus 1945.

Dari ringkasan sejarah tersebut, seharusnya makna sumpah pemuda memiliki arti mendalam bagi seluruh bangsa, terutama kaum muda. Resapan hari sumpah pemuda harus menjadi momen menumbuhkan lagi api semangat yang diwariskan para pemuda terdahulu. Tidak sekadar perayaan melulu.

Harus disadari, hari ini, kita telah masuk ke dalam proses pemosilan pemuda. Sebab perayaan sumpah pemuda setiap tahunnya hanya seromoni dan ritual saja. Berputar hanya di dalam sejarah, yang kemudian mengalami degradasi pemahaman pemuda itu sendiri.

Contoh, dewasa ini banyak pemuda hanya mementingkan pribadi saja. Mereka berbondong-bondong membuat organisasi taktis atau masuk partai. Langkah selanjutnya sudah ditebak: Melakukan kerjasama dengan kekuasaan, menggelar karpet merah untuk kekuasaan, kemudian berusaha menjadi bagian dari kekuasaan.

Sebab, para pemangku kekuasaan mafhum, musuh terbesar mereka ialah pemuda. Maka, hal pertama yang mereka akan lakukan ialah merangkul dan memadamkan api semangat pemuda. Caranya, memberikan kegiatan agar para pemuda disibukan dengan mementingkan diri sendiri.

Padahal, saat ini kondisi negara dalam keadaan krisis. Terjadinya resesi ekonomi, bertambahnya tingkat kemiskinan, meningkatnya utang negara, dan menurunya pendapatan masyarakat.

Saat ini pula, bangsa kita butuh andil pemuda. Namun pertanyakan, pemuda seperti apa? Jelas pemuda yang mempunya moral, komitmen, memiliki pendirian, dan idiologi. Bukan pemuda yang pragmatis dan mudah tergiur dengan kekuasaan.

Organisasi Kepemudaan

Hal yang sangat disayangkan dari seabreknya organisasi kepemudaan ialah tidak disertainya dengan komitmen bersama dan pendirian idiologi.

Mungkin mereka masih muda badan dan usianya. Namun, moral dan pikirannya sudah jompo. Tidak sesui fisiknya. Ini yang harus menjadi catatan.

Karena yang di cari sekarang ialah pemuda yang memilik visioner untuk kepentingan bersama, bukan kepenting pribadi. Tentu memiliki integritas, pendirian kuat pada idiologi, tidak pragmatis.

Berkaca kepada pemuda tahun 1928-an, mereka tidak memiliki kompromi dan tetap pada garis meraka. Mereka enggan disebut inlander, tidak ingin lagi disebut Hindia Belanda. Mereka memiliki idiologi, hanya ingin disebut Indonesia dan bangsa yang merdeka, karena mereka memilih posisi jauh dari kekuasaan (kolonial).

Sejarah tidak akan berulang, tetapi polanya akan mungkin bisa berulang. Ini yang harus kita waspadai sebagai generasi bangsa.

Pada momentum sumpah pemuda inilah pemuda sebagai kaum intelejensia harus bisa membawa perubahan demi kepentingan bersama.

Sudah saatnya makna sumpah pemuda harus dihidupkan kembali. Para tokoh-tokoh yang mempunyai peran penting serta apa yang mereka lakukan demi Indonesia saat itu, agar dijadikan role model.

Momentum sumpah pemuda harus dilakuan untuk meresap perjuangan pemuda dahulu dan menginspirasi kembali peran pemuda sekarang.

Sebab jika tidak, bersiaplah menuju kemerosotan. Harus adanya aspirasi gagasan besar bersama untuk Indonesia. Mengingat 2045 adalah generasi emas dan Indonesia merayakan 100 tahun.

Harapan penulis, momentum ini dijadikan pemuda agar bisa meresapi makna dari nila-nilai sumpah pemuda. Tetap dalam bingkai kesatuan dan memiliki visi bersama untuk Indonesia. Pemuda harus berani memperjuangkan keadilan.

Dan tak lupa, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai patriotisme, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat, cinta tanah air, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, kerukunan, kerja sama, keratif, serta tanggung jawab.

Semua itu harus dilakukan untuk membawa bangsa ini ke arah perubahan yang lebih baik, sesuai cita-cita pemuda sebelum kita.

Oleh: Firmansyah
(Delegesi pemuda Banten pada Festival Pemuda Indonesia tahun 2018)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *