Marquis de Sade: Penulis Filsafat Beraliran Ekstrim, Sekaligus Penikmat Sexs menyimpang

  • Whatsapp

“Marquis de Sade adalah jiwa terbebas yang pernah ada”

Bacaan Lainnya

Sabdanews.net, Inspirasi – Begitu, Guillaume Apollinaire, seorang penyair Prancis abad kedua puluh berujar. Salah seorang pengarang Prancis abad XVIII ini, memilili nama lengkap Donatien Alphonse François de Marquis de Sade, ia lahir di Paris pada tanggal 2 juni 1740 di hotel de Conde Paris.

Lahir dari seorang diplomat Jean-Beastise François Joseph Comte de Sade dan Marie-Eléonore de Maillé, seorang bangsawan terpandang dari Condee Paris.

Tulisan filsafatnya beraliran kebebasan ekstrem, tak terikat dengan etika, agama, atau hukum, dengan prinsip utama pengejaran kepuasan personal.

Sade kecil amat terpengaruh oleh gaya hidup paman dan ayahnya yang agak ganjil, yakni gaya hidup seorang libertin.

Pada usia 10 sampai dengan 14 tahun, ia sekolah di sebuah institusi pendidikan milik Jesuit yang bernama Louis-le-Grand di Paris. Di sana ia mendapatkan pendidikan yang menyeluruh, mulai dari aritmatika, geografi, sejarah, dan seni retorika.

Konon, di sekolah tersebut, de Sade menyadari bahwa ia suka dicambuk dan disodomi. Pada masa itu, praktek sodomi adalah sesuatu yang biasa di berbagai komunitas homogen (pria). Sade pun tertarik pada semua praktek-praktek menyimpang itu, ditambah sedari kecil sudah membaca berbagai novel-novel dan cerita pendek libertin di perpustakaan pamannya.

Tidak hanya membaca buku libertin, ia juga banyak membaca tulisan-tulisan para filsuf pencerahan Prancis. Hingga, dua pengaruh ini: antara pemikiran libertin dan ide pencerahan tentang kebebasan, nantinya akan amat mempengaruhi pola berpikir Sade.

Sade juga pernah menjadi prajurit tempur dan dianggap sebagai seorang tentara yang baik, hingga ia mendapatkan beberapa penghargaan. Setelah itu ia pergi ke Paris, dan memulai petualangannya sebagai seorang pemikir libertin.

Di Paris ia menjalani hidup dengan bersenang-senang, menonton teater, bercinta dengan para aktris, termasuk menikmati tubuh-tubuh pelacur di rumah bordil Paris. Keinginannya untuk memikat perempuan juga amat besar. Terlebih ia tampan.

Keluarga Sade melihat hal ini, dan tak suka. Sade pun dipanggil kembali oleh ayahnya untuk pulang, dan menikah dengan gadis bangsawan pilihan ayahnya, Nama perempuan itu Renée-Pelagie de Montreuil. dari keluarga Montreuil, walau tidak terlalu cantik, ia adalah perempuan yang memiliki banyak karakter baik, seperti tabah menghadapi penderitaan hidup, dan amat setia.

Sade pernah ditahan di beberapa penjara dan rumah sakit jiwa selama 29 tahun hidupnya, walaupun ia tidak pernah secara teknis didakwa melakukan kejahatan apapun. Renée- Pelagie de Montreuil lah yang setia mendampingi Sade, ketika masa-masa gelap hidupnya di penjara pada dekade 1770-1780-an.

Karya Marquis de Sade

Ketika kalian membaca karya-karya Sade, dapat ditemukan banyak hal yang mengandung aspek erotisme dan sadisme. Itu menjadi salah satu ciri karya Sade.

Bahkan, kata sadisme itu sendiri diambil dari namanya yaitu Marquis de Sade, dimana memang banyak karya-karyanya yang erotis dan sadis. Sikap ini muncul karena dia pernah berada dipenjara yang menimbulkan sikap sadis dalam diri. sehingga sangat mempengaruhi karya-karyanya.

Sade sering dianggap sebagai penjelmaan setan, seorang penulis porno, pencipta sadisme dan bahkan seorang budak hasrat serta pelayan utama nafsu-nafsu rendah manusia.

Figur sade sebagai pengarang karya-karya yang erotis dan sadis ini sangat mempengaruhi para pengarang surealis setelah perang dunia pertama.

Hingga kini, banyak karya-karyanya merupakan sumber insipirasi bagi para pengarang, karena gaya penulisan dan bahasa yang digunakan sangat unik, indah, jujur, karena seorang penulis sastra harus jujur dan terus terang sehingga hal yang paling jelek dan keji serta mengerikan yang terdapat dalam kenyataan tidak boleh ditiadakan atau disembunyikan.

Terlebih sampai saat ini, karya-karya Sade banyak memberikan insipirasi bagi para pengarang-pengarang surrealisme Prancis, antara lain André Breton, Sigmund Freud, Louis Aragon.

Dilansir dari Merdeka.com, Salah satu karya Sade yang terkenal adalah ‘Les 120 Journees de Sodome’ yang kemudian diterjemahkan menjadi The One Hundreds and Twenty Days of Sodom (1785). Novel yang ditulis saat dia berada di penjara Bastille.

Ketika itu, gulungan kertas yang dipakainya mencapai panjang 12 meter. Novel itu ditulisnya selama 37 hari. Dia memiliki gulungan kertas sebagai media penulisan untuk menghindari hasil tulisannya disita oleh pihak penjara.

Novel ini berkisah mengenai empat karakter yang memiliki kelainan seks. Mereka adalah The Duc de Blangis, seorang aristokrat yang mendapatkan kekayaan dengan cara membunuh ibu kandungnya dengan cara meracunnya dan melakukan hal yang sama kepada adik perempuannya.

Kemudian ada tokoh yang bernama The Bishop, The Président de Curval dan Durcet.

Keempat tokoh ini diceritakan berbuat kekejian di dalam sebuah kastil dengan memperkosa anak-anak baik laki-laki dan perempuan dan kemudian membunuhnya.

Kisah Sade ini pernah diadaptasi dalam sebuah film kontroversial ‘Salo o le 120 Giornate di Sodoma’ atau sering disebut Salo. Film yang dibuat tahun 1975 dan disutradarai oleh Pier Paolo Pasolini dilarang di berbagai negara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *