DN Aidit: Pentolan PKI yang Terlibat Peristiwa G30S

DN Aidit: Pentolan PKI yang Terlibat Peristiwa G30S

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net, Inspirasi – Nama DN Aidit tentu sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. DN Aidit memiliki nama asli Ahmad Aidit, kemudian ia lebih dikenal dengan nama DN Aidit atau Dipa Nusantara Aidit.

Saat kecil, teman-temannya memanggil dengan nama ‘Amat’. Jelang dewasa, Aidit memutuskan mengganti namanya dari Ahmad Aidit menjadi Dipa Nusantara Aidit. Perubahan itu mendapat persetujuan dari sang ayah.

Aidit kecil sangat dididik oleh pendidikan belanda, meskipun ayahnya, Abdullah Aidit, terlibat aktif dalam perjuangan melawan pemerintahan kolonial Belanda. Sang ayah juga pernah mendirikan perkumpulan keagamaan bernama ‘Nurul Islam’, yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Aidit lahir di di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung pada tanggal 30 Juli 1923.

Ketika beranjak dewasa, Pada 1940, Aidit pergi meninggalkan Belitung untuk pergi menuju Jakarta. Aidit sempat mendirikan perpustakaan “Antara” di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.

Aidit juga pernah masuk ke Sekolah Dagang (Handelsschool), dan di sinilah dia mempelajari sejumlah teori politik Marxis bersama Himpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia).

Baca juga  Cegah Banjir Tangerang: Gubernur Banten Akui Perlunya Normalisasi Sungai Kali Angke

Berawal dari situ juga, Aidit mulai berkenalan dengan tokoh politik Indonesia seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Mohammad Yamin. Bahkan, Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepada Aidit. Selain itu, Aidit juga menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Partai Komunis Indonesia

Pengenalanya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) bermula pada tahun 1948, Aidit masuk Komisi  Penterjemah PKI. Salah satu tugasnya adalah menerjemahkan Manifes Partai Komunis karya Karl Marx dan Friedrich Engels.

Hingga pada tahun 1954, Aidit terpilih menjadi anggota Central Comitee (CC) PKI pada Kongres PKI. Selanjutnya, Aidit terpilih juga menjadi Sekretaris Jenderal PKI.

Di bawah kepemimpin Aidit, PKI membuat partai tersebut menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Cina.

Baca juga  Gubernur Banten Resmikan 5 Gedung OPD

Di masa Aidit juga PKI punya program  untuk membentuk sayap segala lapisan masyarakat seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Lekra.

Namanya makin tersohor, ketika Aidit berhasil membawa PKI menjadi partai dengan suara terbanyak keempat pada Pemilu 1955. PKI berhasil memperoleh 16,36 suara, dan mendapatkan 39 kursi DPR dan 80 kursi Konstituante.

Kematian DN Aidit

Namun, karirnya hancur ketika peristiwa Gerakan 30 September (G30S) terjadi. peristiwa penculikan dan pembunuhan  yang dilakukan suatu kelompok militer pimpinan Let. Kol. Untung menewaskan enam orang jenderal dan seorang kapten.

Peristiwa itu menuduh PKI dan Aidit sebagai dalangnya. Membuat Aidit diburu oleh tentara. Hingga Aidit pun tewas.

Ada pelbagai versi tentang kematiannya, Salah satu versi mengatakan bahwa Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian Aidit dibunuh di dekat sebuah sumur.

Aidit diberikan waktu setengah jam sebelum dieksekusi. Waktu tersebut digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api hingga membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga tidak dapat mengendalikan emosi. Senjata mereka akhrinya menyalak dan menembak Aidit hingga mati.

Baca juga  Lagi-Lagi Narkoboy! Pengedar Tembakau Gorila di Serang Berhasil Diamankan

Versi yang lain juga mengatakan bahwa Aidit diledakkan bersama-sama dengan rumah tempatnya ditahan. Sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Karir DN Aidit

Berikut riwayat karir DN Aidit di politik:

Sekjen Partai Komunis Indonesia (PKI)

Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI)

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Kabinet Kerja III (1962-1963)

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Kabinet Kerja IV (1963-1964).

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Kabinet Dwikora I (1964-1966).

Jabatan Dalam Kabinet:

1. Wakil Ketua MPRS dengan Kedudukan sebagai Menteri dalam kabinet Kerja III (6 Maret 1962 – 13 November 1963).

2. Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dalam kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964 – 22 Februari 1966).

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!