Dari Sastra untuk Budaya dan Budaya untuk Sastra

Dari Sastra untuk Budaya dan Budaya untuk Sastra

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net, Opini – Tahukah kalian bagaimana sastra dan budaya saling membentuk satu sama lain?

Setiap bangsa yang ada di dunia ini sudah pasti punya identitas yang khas sebagai tanda pengenal terhadap warga dunia tentang jati diri mereka. Nah, ciri khas ini dibentuk dari adanya perbedaan latar belakang sejarah dan budaya dari tiap-tiap negara. Indonesia adalah salah satu contoh negara dengan keberagaman kultur budaya yang tersebar di seluruh penjurunya. Kalian pasti familier dengan kata budaya, bukan? Tapi, apakah kalian tahu makna dari kata budaya? Menurut hemat saya, budaya merupakan cara hidup dan hasil dari kreatifitas manusia melalui daya pikir mereka di suatu tempat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keberadaan budaya juga sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satunya ialah aspek kesusasteraan.

Pada masyarakat Indonesia zaman dahulu, kesusasteraan adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Hal ini dibuktikan dengan cara yang dilakukan masyarakat Indonesia pada masa lalu untuk bisa memperkenalkan budaya yang ada di tempatnya adalah dengan tulisan. Tulisan itu biasanya berisi sebuah cerita, yang biasa disebut roman pada masa itu. Menurut saya, di Indonesia ini keadannya sangat istimewa. Dari kepulauan yang sangat luas, Indonesia memiliki ratusan macam bahasa daerah. Beberapa di antaranya memiliki sejarah yang lama dan sudah digunakan untuk karya-karya sastra, baik lisan maupun tulisan yang tetap hidup dan berkembang.

Terbentuknya Balai Pustaka di masa penjajahan Belanda adalah tonggak awal sejarah sastra Indonesia. Pada masa-masa ini karya sastra Indonesia masih mendapat pengaruh kuat dari sastra Belanda. Hal ini bisa kita lihat pada hasil karya dari pengarang Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru.

Baca juga  Haruskah Presiden Berasal Dari Jawa?

Keanekaragaman sastra Indonesia diperlihatkan dari keberagamaan budaya dan kesenian. Wajar apabila dalam karya-karya sastra Indonesia kita akan menemukan latar belakang kehidupan, pendidikan, sampai pengalaman dan kebudayaan penulisnya.

Menurut Teeuw (1988: 23), kata sastra berasal dari akar kata sas (Sansekerta) yang berarti mengajar, mengarahkan, memberi petunjuk, dan instruksi. Sedangkan akhiran tra berarti alat atau sarana. Jadi, bisa kita artikan bahwa sastra adalah kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Dalam perkembangan berikutnya kata sastra sering dikombinasikan dengan awalan ‘su’, menjadi susastra, yang berarti hasil ciptaan yang baik dan indah.

Sastra dan kebudayaan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, secara praktis pragmatis berhubungan erat. Keduanya berada dalam kelompok kata yang memberikan perhatian pada aspek rohaniah, sebagai kemajuan akal manusia.

Lalu, apa pengaruh dari kebudayaan terhadap sastra Indonesia?

Seperti yang kita tahu bahwa di dalam unsur kebudayaan ada “bahasa”. Unsur kebudayaan yang paling banyak memanfaatkan kata-kata, dalam hubungan ini sebagai bahasa, adalah sastra. Dengan kata lain, media utama karya sastra adalah bahasa. Yang disebut sebagai “sastra Indonesia” di sini adalah karya-karya sastra yang lahir dari hasil pertemuan dengan kebudayaan Barat. Yang baru, modern dan dalam bentuk tulisan. Dan yang disebut sebagai “sastra daerah” ialah karya-karya sastra yang lahir dalam bahasa-bahasa daerah di seluruh Indonesia, baik lisan maupun tulisan. Salah satu ciri yang mencolok dari sastra nasional Indonesia ialah sifatnya yang kekotaan. Sedangkan sastra daerah masih berorientasi kepada kehidupan pedesaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada kehidupan sastra masing-masing merupakan ragam yang membuat warna-warna pada sastra Indonesia.

Baca juga  Opini WTP versus Korupsi Banten

Di antara sastra-sastra daerah itu, di samping meneruskan atau mengembangkan bentuk tradisionalnya, ada juga yang mendapat pengaruh dari sastra nasional dan melahirkan karya dalam bentuk-bentuk roman, drama, sajak bebas, kritik, esai, dan lain-lain. Hal ini berkaitan dengan kata Dulce et utile. Kata ini berarti fungsi dari sastra. Sebuah karya sastra yang lahir dari imajinasi para sastrawan, memiliki tujuan agar bisa menghibur dan membawa manfaat bagi pembacanya. Manfaat yang didapat pembaca bisa memiliki banyak bentuk pesan, seperti pesan moral, agama, kehidupan bahkan budaya penulisnya. Maka, bukan hal yang tidak mungkin jika pesan yang ingin disampaikan seorang sastrawan lewat tulisannya mampu mempengaruhi pola pikir, dalam hal ini pembaharuan budaya masyarakat. Bahkan, dari pola pikir yang baru bisa saja mengubah cara hidup mereka menjadi lebih maju dan berkembang.

Sebagai sebuah sistem yang besar dari keseluruhan aktivitas kemanusiaan, kebudayaan menampilkan dimensi-dimensi kehidupan yang sangat kaya dan beragam. Kebiasaan dan situasi sosial di suatu daerah, yang menjadi bagian dari kebudayaan adalah tema-tema yang biasa diambil oleh pengarang. Hal yang tidak perlu kita bantah lagi bahwa ide cerita yang dipakai para pengarang baik di masa balai pustaka atau yang lainnya terinspirasi dari situasi masyarakat, seperti adat istiadat, tradisi dan sebagainya. Anggapan ini pernah diungkapkan juga dalam sebuah kutipan yang mengatakan,

Baca juga  Bantu Warga Terdampak Covid, Pemdes Kalanggunung Salurkan BLT DDpmeri

Saya beranggapan, latar belakang sejarah dan zaman serta latar belakang kemasyarakatan punya pengaruh yang besar dalam proses penciptaan, juga dalam penulisan novel. Pengaruh yang demikian tidak hanya terbatas pada tema-tema yang diungkapkan, tetapi juga terhadap struktur karya sastra tersebut. “Sastra Indonesia dan Tradisi Subkultur” hal. 34

Salah satu pengaruh budaya dan tradisi masyarakat daerah dalam menginspirasi pembuat karya sastra adalah roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Tema yang diambil dalam karya ini adalah cinta sejati yang tak bisa bersatu karena adat istiadat. Hamka jelas mengamati adat istiadat yang berlaku di tempat asalnya, yaitu Padang, Sumatera Barat. Masyarakat Padang pada saat itu sangat memegang teguh budaya yang ada di tempatnya, yakni adat istiadat dalam pernikahan.

Nyatanya, sastra dan budaya atau kebudayaan saling memiliki pengaruh satu sama lain. Kedua hal tersebut memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Adakalanya sastra membawa kemajuan untuk kebudayaan dan pola pikir masyarakat dan ada waktunya kebudayaan membawa inspirasi untuk kebangkitan sastra Indonesia.

Oleh :

Wirda Adelia,
Mahasiswi aktif Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!