Kenalan Sama Istilah “Konvensi Sastra”, Biar Tidak Dikira Produksi Baju!

Kenalan Sama Istilah “Konvensi Sastra”, Biar Tidak Dikira Produksi Baju!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net, Ruang Publik – Istilah “konvensi sastra” mungkin masih sangat asing di telinga masyarakat umum. Bisa jadi saking asingnya istilah ini, orang-orang bisa salah tangkap memaknai “konvensi” menjadi “konfeksi”. Iya, konfeksi, istilah yang dikenal dengan arti produksi baju bejibun itu, lo!

Memang apa sih sebenarnya konvensi satra itu? Jadi gini, gengs … biar lebih mudah dipahami, konvensi sastra itu aturan tidak tertulis berdasarkan kesepakatan umum dalam sebuah karya sastra. Emmm, sama dong kayak norma dan adat? Sedikit mirip, tapi ternyata beda!

Jika adat adalah aturan yang sudah menjadi “kebiasaan secara turun-temurun” dalam masyarakat, dan norma adalah aturan tidak tertulis yang menjadi “pedoman dan tolok ukur” di dalam masyarakat, maka konvensi itu lebih kepada aturan yang tercipta karena “kesepakatan” dalam masyarakat. Nah, di sini, kita tidak akan membahas konvensi pada umumnya, melainkan konvensi dalam ruang lingkup sastra.

Baca juga  Kapolda Banten Menerima Kunjungan Dirut PT Krakatau Tirta Industri

Jadi sesuai dengan pengertian sebelumnya, maksud dari istilah konvensi sastra adalah sebuah aturan dalam karya sastra berdasarkan kesepakatan masyarakat. Yang artinya, konvensi sastra ini telah seia sekata dengen persetujuan dari masyarakat. Bahkan, konvensi sastra ini sendiri pada dasarnya terwujud karena adanya masyarakat yang menyepakati hal tersebut, lo, gengs!

Secara tidak langsung, konvensi sastra ini sama seperti pengertian yang sudah menjadi slogan dari demokrasi, lo, gengs! Yaitu, “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat!”. Iya, konvensi sastra juga seperti itu, tercipta dari masyarakat, dibuat oleh kesepakatan masyarakat, dan ketika karya sastra itu tercipta, maka akan dinikmati oleh masyarakat pula.

Untuk contoh dari istilah konvensi sastra ini sendiri, saya akan memberikan contoh berupa sebuah roman/novel yang bertemakan tentang detektif. Konvensi sastra (aturan tidak tertulis yang telah disepakati oleh masyarakat) dalam roman detektif adalah adanya pembunuhan, mayat, seorang detektif, sebuah alibi dan sebagainya.

Baca juga  Feminisme dan Pandangan Islam Terhadapnya

Nah roman detektif ini kan merupakan sebuah  karangan prosa yang lebih menekankan ceritanya pada sebuah teka-teki atau kasus yang harus dipecahkan oleh seorang tokoh detektif. Nah beberapa yang telah saya sebutkan tadi merupakan konvensi sastra dari sebuah roman bertema detektif.

Kenapa hal itu disebut sebagai konvensi sastra? Karena, ketika karya sastra itu bertema detektif, maka karya sastra itu di dalamnya—tanpa aturan tertulis—harus menggambarkan adanya kasus kriminal, pembunuhan, seorang detektif, dan lain-lain. Karena masyarakat sendiri yang membuat aturan itu, bahwasannya tidak mungkin sebuah karya sastra tentang detektif di dalamnya justru membahas tentang percintaan atau mungkin juga komendi dan tidak menyertakan beberapa keharusan konvesi yang saya sebutkan sebelumnya. Kalau roman detektif tidak menceritakan tentang kasus kirminal, kejahatan, dan seorang detektif, justru hanya berfokus pada kisah percintaan—misalnya. Maka, roman/novel itu secara konvensi tidak akan disebut sebagai roman detektif, melainkan disebut sebagai roman picisan (cerita yang hanya berfokus pada kisah-kisah percintaan).

Baca juga  Anggota DPRD Provinsi Banten Fraksi PKS Kecam Tindakan Oknum Yang Jadikan Al-Quran Sebagai Pembungkus Petasan

Jadi, gimana, gengs? Sudah paham, ‘kan, sama istilah “konvensi sastra”? Sudah tidak tertukar lagi, ‘kan, dengan istilah “konfeksi”? Tapi, gengs! Sepertinya bagus juga nih jika ada istilah baru, yaitu “konfeksi sastra”. Yang memiliki arti, pembuatan karya sastra secara massal, yang nantinya akan diproduksi (diperjualbelikan) untuk dinikmati, dipelajari, dan diteliti.

Penulis:

Silvia Utami. Lahir dan besar di Tangerang. Tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bisa dihubungi melalui instagramnya @silviaaau

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!