Wali dari Kalangan Berandal

Wali dari Kalangan Berandal

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram
Share on tumblr

مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ

Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. (QS al-Baqarah: 106)

Ada penafsiran yang menarik dari Syeikh Abu ‘Abbas al-Mursi tentang ayat di atas. Syeikh Abu ‘Abbas al-Mursi merupakan murid Syeikh Abu Hasan al-Syadzili sekaligus penerus estafet mursyid Tarekat Syadziliyah. Sepeninggal Syeikh Abu ‘Abbas al-Mursi, mursyid Tarekat Syadziliyah dipegang oleh Syeikh Ibn ‘Ataillah al-Sakandari. Pengarang kitab al-Hikam yang banyak dikaji di kalangan pesantren di Indonesia.

Menurut Syeikh Abu ‘Abbas al-Mursi, kata “ayat” di atas ditafsirkan sebagai wali (kekasih Allah). Dengan kata lain, tidak ada wali yang meninggal (diwafatkan) kecuali diganti oleh Allah dengan wali yang lebih baik atau semisalnya. Tafsir al-Qur’an memang tidak monolitik. Semakin dalam seorang mufasir menggali kedalaman tafsir al-Qur’an maka semakin banyak pula makna yang dia dapatkan.

Kalimat yang harus digarisbawahi dari QS al-Baqarah: 106 di atas adalah wali yang meninggal akan diganti dengan yang lebih baik atau semisalnya.

Saya teringat tentang para wali yang berasal dari kalangan berandal. Pada awalnya mereka adalah perampok, bandit, begal dan sejenisnya. Saya tidak memastikan bahwa wali yang diangkat dari kalangan berandal akan selalu diganti dari kalangan berandal juga. Wallahu a’lam. Tetapi, ada pola yang berulang, yaitu dari zaman ke zaman ada wali yang berasal dari kalangan ini.

Baca juga  BIARKAN SAJA

Kita tentu tidak asing dengan nama Sunan Kalijaga (1460-1513 M). Sebelum bertobat di tangan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said (Syahid?) dikenal sebagai perampok atau begal. Tetapi hasil rampokannya tidak dimakan sendiri tetapi dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Mirip dengan kisah legendaris Robin Hood. Saya tidak tahu apakah akhirnya Robin Hood juga diangkat menjadi wali. Di antara referensi yang membahas Sunan Kalijaga adalah Bandit Saints of Java: How Java’s eccentric saints are challenging fundamentalist Islam in modern Indonesia karya George Quinn.

Jauh sebelum Sunan Kalijaga, ada Fudhail bin Iyadh (726-803 M). Fudhail adalah kepala perampok yang juga mempunyai sisi kebaikan dalam perilakunya. Ketika merampok kafilah, dia tidak menganggu wanita, anak-anak, orang berusia lanjut dan masih menyisakan bekal untuk para korbannya. Meskipun merampok, Fudhail juga rajin salat sunnah dan puasa sunnah. Ketika seseorang menegurnya: “Bagaimana kebaikan bisa bercampur dengan keburukan? Salat sunnah tapi menghilangkan nyawa, puasa tapi merampok”. Fudhail bertanya balik: “Apakah Kamu paham al-Qur’an?” kemudian Fudhail menyitir ayat al-Qur’an:

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At-Taubah: 102)

Pada suatu waktu, ada seseorang yang memisahkan diri dari kafilah karena dia tahu bahwa rombongannya pasti dirampok oleh gerombolan penyamun (anak buah Fudhail). Dia mendapati ada seseorang di dekat sebuah kemah. Dia menitipkan hartanya yang berharga kepadanya, kemudian bergabung lagi dengan kafilah. Setelah perampokan selesai, dia mendatangi orang yang dititipi barangnya. Orang itu sekarang tidak sendiri lagi tetapi dikelilingi oleh anak buahnya dan sedang membagi harta rampokan. Dia baru sadar bahwa orang yang dititipi barang adalah kepala perampok alias Fudhail bin Iyadh. Dia merasa sedih sekali telah menitipkan barang yang sangat berharga kepada pimpinan perampok. Fudhail yang melihat kesedihan orang ini kemudian mengembalikan harta titipan.

Baca juga  Pengangkatan Tenaga Ahli Walikota Cilegon: Mahasiswa Mengadu ke Jampidsus Kejagung

Anak buah Fudhail protes, kenapa harta titipan itu harus dikembalikan. Fudhail menjawab: “Aku kembalikan hartanya karena dia sudah berbaik sangka kepadaku sebagaimana aku berbaik sangka kepada Allah yang mudah-mudahan menganugerahi pertobatan. Aku hargai persangkaannya padaku semoga Allah menghargai persangkaanku pada-Nya”. Kisah lebih lengkap tentang Fudhail bin Iyadh dan pertobatannya bisa baca, salah satunya, kitab Tadzkirat al-Awliya’ karya Farid al-Din al-Attar.

Selanjutnya, ada Syeikh Muhammad al-Syanbaki dan muridnya, Syeikh Abu Wafa bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Zaid al-Halwani. Keduanya pada mulanya adalah perampok. Syeikh Muhammad al-Syanbaki tobat di tangan Syeikh Abu Bakar bih al-Huwara. Setelah merampok di dekat kediaman Syeikh al-Huwara, al-Syanbaki berkata kepada teman-temannya: “Pergilah sesuka Kalian. Syeikh al-Huwara telah mengambil seluruh kalbuku”.

Baca juga  Masyarakat Desa Wirasinga Keluhkan Kualitas Pembangunan Jalan yang Kurang Bagus

Setali tiga uang, Syeikh Abu Wafa bertobat setelah merampok dan menyikat habis semua ternak di sebuah desa kecil yang bertetangga dengan kediaman Syeikh al-Syanbaki. Penduduk desa itu kemudian mengadu kepada Syeikh al-Syanbaki. Singkat cerita, Syeikh al-Syanbaki mengutus pelayannya untuk menyampaikan pesan kepada Abu Wafa. “Pergi ke Abu Wafa dan katakan kepadanya, Syeikh Muhammad al-Syanbaki memanggilmu untuk bertobat kepada Allah dan kembalikan seluruh ternak kepada pemiliknya”. Cerita selengkapnya baca kitab Qala’id al-Jawahir fi Manaqib ‘Abd al-Qadir al-Jilani karya Syeikh Muhammad bin Yahya al-Tadafi.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas: Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Yang masih bandel, badung, melampaui batas dsb, jangan putus asa. Tetap berbaik sangka kepada Allah dan juga berbuat baik semampu mungkin. Lowongan wali dari kalangan berandal insya Allah masih terbuka.

Penulis: Kiai Agus Ali Dzawafi, M.Fil (Pengasuh Ngaji Nyusufi Sekolah Filsafat Averroes dan Ketua Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN SMH Banten)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!