Selipkan Pembelajaran 6 Agama dalam Kurikulum Secara Menyeluruh!

Selipkan Pembelajaran 6 Agama dalam Kurikulum Secara Menyeluruh!

HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH SURABAYA
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net, Opini – Bagaimana responsmu jika ada seorang anak dengan raut yang sedih datang kepadamu dan berkata, “Temanku sangat baik, tapi dia akan masuk neraka karena agamanya tidak sama dengan agamaku!”. Apa yang akan kamu lakukan? Menanggapinya? Atau justru bingung dan tidak tahu harus bagaimana? Kebingungan itu mungkin saja terjadi karena sebenarnya kita sadar, agama yang beragam merupakan hal yang (masih) cukup tabu untuk dibincangkan dalam pandangan masyarakat luas di Indonesia. Alhasil, banyak sekali dari kita yang sering menutup mata terkait fenomena tersebut.

Miris bukan? Sedari dini, pemahaman tentang agama di Indonesia hanya dititikberatkan pada surga dan neraka. Bahkan, seorang anak dengan polosnya mampu menentukan “surga-nerakanya” seseorang. Bukankah harus ada yang diubah dari pola pemahaman seperti ini? Lantas, bagaimana memulai perubahannya? Siapa yang mempunyai kuasa besar dalam upaya merubah pola pemahaman ini? Di mana tempat yang dianggap cukup efisien untuk mengubahnya?

Tentu, salah satu cara untuk mengubah pola pemahaman seperti ini, diperlukan sebuah tempat yang mampu memfasilitasi proses pembelajaran di dalamnya. Tempat ini bisa disebut “sekolah” atau lain sebagainya. Sekolah—atau tempat apa saja yang mampu memfasilitasi proses pembelajaran—mempunyai kuasa besar dalam upaya mengubah pemahaman terhadap agama pada anak, tentunya setelah orang tua. Selain itu, upaya perubahan ini bisa dimulai dengan cara menyelipkan sebuah pemahaman dasar terkait agama di Indonesia melalui kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut.

Kenapa harus kurikulum pendidikan? Karena, kurikulum pendidikan adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun secara sistematis. Artinya, melalui kurikulumlah sebuah pembelajaran nantinya akan menjadi berkualitas. Dengan kata lain, proses dan hasil dari pembelajaran bergantung pada kualitas kurikulum tersebut.

Permasalahannya, jika ditilik dari perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia, sepertinya belum ada kurikulum yang mengharuskan semua peserta didik mempelajari 6 agama (yang diakui) di Indonesia secara menyeluruh. Padahal, saya yakin, pemahaman tentang keberagaman agama di Indonesia merupakan suatu hal yang penting. Karena, Indonesia adalah negara majemuk, negara yang dipenuhi dengan keberagaman dari segi mana pun, utamanya adalah agama. Jika pemahaman tentang agama yang beragam ini tidak ditanami dengan baik dan benar, maka akan banyak muncul bibit-bibit intoleran yang nantinya akan sangat merugikan.

Beberapa kurikulum memang sudah menerapkan pembelajaran agama di sekolah. Namun, kenyataannya, hanya pelajaran agama bagi peserta didik yang menganut kepercayaan tersebut yang belajar, sedangkan peserta didik yang tidak menganut kepercayaan tersebut biasanya diperkenankan untuk pergi ke kantin atau lain sebagainya, hal ini dikenal dengan istilah “jam kosong”. Misalnya, ketika di sekolah umum terdapat mata pelajaran agama Islam, maka hanya peserta didik yang beragama Islam saja yang wajib mengikuti jam pelajaran tersebut. Sedangkan, peserta didik yang menganut agama lain seperti agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan kepercayaan lainnya, biasanya diperkenankan untuk tidak mengikuti jam pelajaran di kelas tersebut.

Saya rasa, aturan seperti ini perlu diubah. Sistem pendidikan yang mengharuskan semua peserta didik untuk mempelajari agama yang bahkan tidak dianut oleh mereka, perlu dibuat. Karena hal ini tentunya akan memberi dampak yang besar bagi keberagaman agama di Indonesia. Rasa toleransi yang lebih tinggi akan terjalin satu sama lain sejak dini. Tak kenal, maka tak sayang, bukan? Istilah itu sangat lazim berlayar di lautan Indonesia.

Artinya, jika kita menginginkan bibit-bibit yang toleran, anti radikalisme, dan saling menghormati, bukankah perlu kita kenalkan terlebih dahulu pemahaman tentang agama lain? Jika mereka (peserta didik) sudah mengenal sedari dini, maka hal itu akan memudahkan mereka dalam bersikap dan menilai seseorang bukan hanya dari perbedaan agamanya, melainkan dari nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh setiap agama yang diimplementasikan oleh orang tersebut dalam kehidupannya. Hal ini selaras dengan pernyataan Cinta Laura Kiehl dalam perbincangannya bersama Habib Husein Ja’far dalam akun YouTube Jeda Nulis:

“Aku harap, ya, bisa lebih fair (pada) pelajaran agama. Setiap agama diajarkan secara rata, supaya anak-anak Indonesia bisa belajar tentang semua keyakinan yang ada di luar sana dengan baik dan punya pengertian yang kuat.” ucapnya lugas dengan aksen Indonesia yang sangat baik.

Selain itu, ia pun menambahkan bahwa saat ia bersekolah dulu, ia mempelajari berbagai kitab suci dari berbagai agama dari segi filosofi dan literatur. Dengan begitu, ia dapat benar-benar mengapresiasi ajaran dari setiap agama. Ia pun dapat melihat dari sudut pandang yang berbeda, jika ternyata, pada dasarnya, setiap agama itu berusaha mengajarkan value-value atau ajaran yang baik. Hingga dengan begitu, ia mempunyai kompas moral yang kuat dan bisa menjadi manusia yang saling menghormati satu sama lain, dan hidup secara harmonis dan sejahtera.

Hal ini pula yang saya harapkan, yaitu bisa diterapkannya aturan untuk mempelajari setiap agama di setiap sekolah/wadah pembelajaran. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperkuat rasa toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Jika hal ini sudah diajarkan sejak dini, sejak duduk di bangku sekolah, maka peluang untuk terciptanya sebuah keharmonisan atas dasar “toleransi” ini menjadi lebih besar. Istilah toleransi yang masih dianggap sebuah ke-wow-an, akan menjadi hal yang biasa ketika ditemukan, bahkan di pinggir-pinggir jalan.

Oleh:

Silvia Utami. Lahir dan besar di Tangerang. Tengah menempuh pendidikan sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bisa dihubungi melalui instagramnya @silviaaau

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!