Kedekatan Imam Ali dan Rasulullah SAW

Kedekatan Imam Ali dan Rasulullah SAW

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net, Kisah – Imam Ali termasuk diantara orang-orang yang dicintai Rasulullah SAW, walaupun bukan orang yang dicintainya secara mutlak. Rasulullah SAW sangat mencintainya seperti anaknya sendiri sampai beliau berkenan menikahkannya dengan putri kesayanganya Fatimah Az-Zahra. ada beberapa hadis Nabi mengenai kecintaanya kepada Imam Ali, diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar dan Aisyah. Sangatlah wajar apabila Rasulullah sangat mencintainya karena Imam Ali adalah putra pamanya yang diasuhnya semenjak kecil dan terlebih Imam Ali adalah suami dari putri kesayanganya.

Kedekatan Imam Ali dengan Rasulullah SAW terjalin semenjak Imam Ali lahir, dimana pada waktu itu Rasulullah SAW masih dalam asuhan ayahnya Abu Thalib. Ketika Imam Ali masih bayi, Rasulullah SAW yang memomongnya sebagaimana yang dikisahkan Ali sendiri, “apakah anda tahu apa yang menyatukan aku dan Nabi?. Ia adalah hubungan kekeluargaan dan keperibadian yang baik. Dia mencintai aku sejak aku dilahirkan, ia memomongku di pangkuannya ketika aku bayi mendekapkanku ke dadanya, tidur di sampingku, merasakan kehangatan tubuhnya, mencium wangin nafasnya, ia mengunyahkan makanan yang keras untukku”.

Imam Ali dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga bani Hasyim, yaitu salah satu kabilah terkemuka dan terpandang dikalangan kaum Qurays Makkah. Ayahnya bernama Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf dan ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Imam Ali dilahirkan di ka’bah pada hari jum’at tanggal 13 Rajab. mengenai tahun kelahiranya ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan Imam Ali dilahirkan sepuluh tahun sebelum Nabi diutus menjadi Rasul. ada yang mengatakan tahun ketiga puluh dua dari kelahiranya Rasulullah SAW. Adapula yang mengatakan tiga puluh tahun setelah tahun gajah.

Baca juga  Banten, Indeks Kebahagiaan, dan Kemiskinan Ekstrem

Imam Ali adalah anak terakhir dari empat bersudara, yang tertua Thalib, kemudian Aqil, Ja’far dan Imam Ali. Oleh karena itu sebagaimana kebiasaan orang Arab memanggil orang lain dengan sebutan kunyah sebagai penghormatan, maka haidarahpun lebih dikenal dengan panggilan Abu Thalib. Pada mulanya nama Imam Ali yang diberikan ibunya adalah Haidarah atau Haidar yang berarti singa sesuai dengan nama kakeknya Asad. Tapi Imam Ali kemudian Abu Thalib menamakanya Ali yang berarti luhur, tinggi dan agung. Apabila dilihat dari silsilah keturunanya, Imam Ali adalah sepupu Rasulullah SAW dari pihak ayah karena Abu Thalib adalah kakak kandung Abdullah ayah Rasul. orang-orang Qurays menghormati, mencintai dan senantiasa taat kepadanya bukan karena semata-mata kedudukanya di kalangan kaum Qurasy, tetapi terutama disebabkan oleh sifat-sifatnya yang mulia, perangainya yang luhur dan keperibadianya yang menarik yang dengan kekuatan dan ketinggianya memikat adab mengagumkan orang.

Abu Thalib adalah seorang ayah yang mempunyai rasa tnggung jawab dan harga diri yang tinggi, cerdas serta mempunyai perasaan yang halus. Dengan kehalusan perasaannya itulah Abu Thalib menjadi penyair berbakat walaupun tidak begitu terkenal. pada saat terjadi kekeringan yang melanda kaum Qurays, kehidupan Abu Thalib semakin susah. Kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan krisis ekonomi. Kondisi ekonomi keluarganya tidak lagi mampu membiayai kebutuhan anak-anaknya. Rasulullah SAW pada waktu itu sudah menikah dengan Khadijah, turut merasakan kesusahan yang dialami pamanya itu. Terbesitlah dalam benak Rasulullah SAW untuk membalas budinya dengan mengasuh salah satu anaknya sebagaimana Abu Thalib mengasuhnya dulu. Untuk merealisasikanya rencana tersebut, Rasulullah SAW menemui kedua pamanya Hamzah dan Abbas. Setelah melalui perundingan, maka diputuskan Hamzah mengambil ja’far, Abbas mengambil Thalib dan Rasulullah SAW sendiri mengambil Imam Ali. Sementara itu Aqil tetap tinggal bersama Abu Thalib karena ia sangat mencintainya.

Baca juga  Peristiwa Isro Miraj: Sebuah Komunikasi Suci

Semenjak Imam Ali diangkat anak oleh Rasulullah SAW, Rasulullah mengasuhnya dan membesarkanya dengan penuh kasih sayang. Perhatian dan kasih sayangnya menjadikan Imam Ali tumbuh menjadi remaja yang sehat baik jasmani maupun rohani. Sejak kecil Imam Ali dididik untuk selalu menjunjung dan membela kebenaran. Dalam asuhan Rasulullah SAW Imam Ali dididik memenuhi kebutuhanya sendiri. Masa remajanya dijalaninya dalam suasana turunya wahyu. Oleh karena itu Imam Ali banyak mengetahui tentang turunya Ayat demi ayat sebagaimana perkataanya, “ tanyalah kepadaku, tanyalah tentang apas aja yang kalian inginkan mengenai Al-Qur’an, demi Allah tidak ada satu ayatpun dari ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak aku ketahui. Apakah ia diturunkan dikala siang ataukah diwaktu malam”.

Mendengar jakan tersebut pada mulainya Imam Ali merasa ragu untuk menyatakan keimananya karena kalau-kalau ayahnya marah. Namun ketajaman fitrahnya mengenali kebenaran membuatnya berani memutuskan untuk mengikuti ajakan Rasulullah SAW tanpa minta ijin terlebih dahulu kepada ayahnya, sebagaimana perkataanya, “Allah menjadikan saya tanpa saya harus berunding dengan Abu Thalib. Apa gunanya saya beruding dengan dia untuk menyembah Allah.

Imam Ali adalah orang yang pertama-tama beriman terhadap kerasulan Rasulullah SAW dari kalangan anaj-anak. Keimananya membuatnya semakin dekat dengan Rasulullah SAW. Ada beberapa pendapat mengenai umur Imam Ali ketika masuk Islam. Ada yang mengatakan tujuh tahun, sepuluh tahun, dan adapula yang mengatakan bahwa pada waktu itu Imam Ali berumur enambelas tahun. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan sepuluh tahun. Karena pada saat itulah dakeah Islam dimulai.

Baca juga  Ketua DPRD Kota Serang Minta Pemkot Serang Segera Membuka Kembali Tempat Wisata

Imam Ali masuk Islam bukan karena faktor kekerabatanya yang dekat dengan Rasulullah SAW, sebab tidak sedikit kerabt Rasulullah SAW yang menentangnya dan tetap menganut agama nenek moyang mereka. Imam Ali masuk Islam karena pengetahuanya tentang keluhuran budi pekerti serta kasih sayang Rasulullah SAW kepadanya selama tinggal bersamnaya. Hal inilah yang menyebabkan lebih condong kepada iabadah Rasulullah SAW dari pada ibadah yang dilakukan kaumnya.

Beberapa sahabat mengatakan bahwa Imam Ali adalah seorang makmum sejati yang mempunyai akhlak dan budi pekerti yang mulia, tidak ada yang memiliki kecintaan dan kesungguhanya dalam memeluk agama Islam seperti beliau itu. Imam Ali adalah seorang muslim sejati dalam ibadah, keilmuan, keilmuan, perbuatan dan keperibadian karena beliau tumbuh hanya dalam pendidikan Islam. Imam Ali menjadikan ibadah sebagai penghibur dirinya bukan hanya sebagai kewajiban. Keislamanya sempurna dengan keselarasan pengetahuan dengan amal ibadah.

Sejak keislamanya Imam Ali hampir tidak pernah berpisah dengan Rasulullah SAW. Beliau menyaksikan bagaimana Rasulullah SAW bersiap- siap menerima wahyu dan beliaulah orang yang pertama mendengarkan ayat-ayat yang dibaca Rasulullah SAW sebelum orang lain mendengarnya. Imam Ali banyak mengatahui tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang turun kepada Rasulullah SAW, dalam hubungan apa ayat-ayat diturunkan dan ditunjukan kepada siapa, di samping kecerdasanya, kedekatanya dan kesetiaanya kepada Rasulullah, beliau dapat menyerap segala apa yang diajarkan Rasulullah kepadanya.

Tulisan ini adalah kiriman pembaca

Ditulis oleh Islahuddin, M.Pd (Pegiat Studi Pendidikan Islam dan Warga Al-khairiyah)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!