Feminisme dan Pandangan Islam Terhadapnya

Feminisme dan Pandangan Islam Terhadapnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Oleh :
Afda Nurkhoviya Sahid

Penggiat Diskusi Forlik

Sabdanews.net, Opini – Asumsi yang dipahami masyarakat bahwa kaum feminis maupun penggiat gender adalah mereka yang dengan berbagai metode melakukan gerakan-gerakan anti kemapanan terhadap keberadaan laki-laki dan perempuan. Asumsi tersebut semakin menguat manakala masyarakat membaca lewat media yang menonjolkan perilaku sekelompok feminisme radikal yang menolak penindasan secara vulgar, seperti membakar bra, membolehkan perempuan imam sholat Jum’at, pembolehan azan. Ditambah lagi tumbuh berkembangnya “preman-preman perempuan”, dan paling akhir gerakan feminis lesbian dan yang mengajukan kritik terhadap heteroseksual sebagai orientasi yang diharuskan atau disebut sebagai normal.

Feminisme berasal dari bahasa latin, Femina atau feminus yang merupakan penggabungan kata. kata fe berarti iman dan mina atau minus yang artinya kurang, yang berarti femina artinya kurang iman. Penamaan ini membuktikan bahwa di Barat perempuan dianggap sebagai makhluk yang kurang iman, dalam pengertian makhluk sekunder atau makhluk kedua setelah laki-laki. Dan kata isme berasal dari bahasa Yunani –ismos yang menandakan suatu paham atau ajaran atau kepercayaan. Sedangkan pengertian Feminisme adalah sebuah gerakan dilakukan oleh kaum perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan yang setara dengan para lelaki.

Secara umum feminisme dan gender pada dasarnya adalah konsep yang sederhana dimana perempuan hanya ingin memperoleh keadilan dalam segala hal terutama pendidikan, bukan untuk melebihi pria dan kodratnya. Karena itu kelompok feminis memberikan konsep gender berangkat dari perbedaan laki-laki dan perempuan yang terjadi karena dibentuk oleh perbedaan sosial bukan dinilai dari aspek kodrati.

Gerakan feminisme muncul dan berkembang awalnya terjadi di negara barat yang mayoritas bukan merupakan muslim. Mereka bahkan sangat banyak menentang peraturan islam akan kodrat seorang perempuan. Seperti kebanyakan para wanita muslim yang lebih memilih dirumah dibandingkan dengan bekerja setelah menikah. Mereka yang awam akan ajaran islam menganggap ini merupakan suatu ketidakadilan bagi kaum wanita. Islam tidak mengenal istilah feminisme dan gender dengan berbagai bentuk konsep dan implementasinya dalam melakukan gugatan atas nilai-nilai subbordinasi kaum perempuan, karena dalam Islam tidak membedakan kedudukan seseorang berdasarkan jenis kelamin.

Baca juga  Mu'jijah Mahasiswa Kandidat Doktor S3 UGM : Mahasiswa, Tugas dan Nilai

Islam mendudukkan wanita dan laki-laki pada tempatnya. Tak dapat dibenarkan anggapan para orientalis dan musuh islam bahwa islam menempatkan wanita pada derajat yang rendah atau di anggap masyarakat kelas dua. Dalam Islam, sesungguhnya wanita dimuliakan. Banyak sekali ayat Al-qur’an ataupun hadis nabi yang memuliakan dan mengangkat derajat wanita. Baik sebagai ibu, anak, istri, ataupun sebagai anggota masyarakat sendiri. Tak ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam islam, akan tetapi yang membedakan keduanya adalah fungsionalnya.

Sejak awal mula kedatangannya, Islam telah menghapus diskriminasi terhadap kaum perempuan, setelah sebelumnya pada zaman jahiliyah praktek pembunuhan bayi perempuan merupakan suatu hal yang lazim dilakukan, namun ketika Islam datang hal tersebut dihapuskan dan dilarang secara keseluruhan.

Di dalam agama, terdapat perbedaan-perbedaan dalam hal pembagian hak, peran dan tanggung jawab atara pria dan wanita. Namun, semua itu sudah dianggap adil diantara keduanya tanpa adanya diskriminasi. Ketika peradaban Barat memasuki kedalam dunia Islam, mereka banyak melakukan pengkritikan terhadap syari’at Islam yang selama ini menjadi suatu keyakinan oleh umat Islam baik dalam masalah hak, peran, dan tanggung jawab. Dengan mengatas dalih mencapai kebebasan terhadap status dan persamaan peran antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih kita kenal dengan kesetaraan gender. Namun, anehnya para pemikir Muslim terpengaruh dan menimbulkan wacana baru dalam dunia Islam. Konsep-konsep Islam tentang peran dan hak wanita dipertanyakan dan dibongkar dengan dalih tidak sesuai konteks zaman dan tidak adil bagi wanita itu sendiri. Mereka menuduh Islam memberikan perhatian lebih kepada laki-laki dari pada perempuan dari segala lini kehidupan, padahal jika kita telusuri dan pahami dengan baik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda secara fitrah, namun sejatinya akan menjadi mulia dengan masing-masing tugasnya tanpa merasa terdiskriminasi.

Baca juga  Catatan PRIMA DMI di 7 Tahun, Meniti Jalan Menggapai Tujuan Impian

Hal inilah yang dijadikan sebagai landasan kaum feminis dalam melancarkan idiologi mereka, bahwasanya gerakan gender tidak mempermasalahkan perbedaan identitas antara laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis atau jenis kelamin, akan tetapi mengkaji aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non-biologis lainnya
Hal semacam inilah yang di gagas oleh para kaum feminis dimana kesamaan atau netral atas kondisi ideal laki-laki dan perempuan. Jika kenetralan ini dilanggar, maka dalam pandangan mereka akan menimbulkan ketimpangan sosial, yakni diskriminasi terhadap kaum perempuan. Pada umumnya kaum feminis memakai ukuran kuantitatif dalam menentukan apakah terjadi ketimpangan seperti melihat out come, lot atau keberhasilan yang telah dicapai laki-laki dan perempuan di dunia publik, perempuan telah memainkan peranan yang sangat strategis pada masa awal maupun pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri, baik dalam segala urusan, hal ini terbukti melalui peranan perempuan didalam membantu perjuangan Rasulullah Saw, didalam melakukan misi dakwah ataupun didalam misi medan perang. Khadijah misalnya, istri Nabi yang sangat setia, telah memberikan segala kekayaan yang ia punya untuk kepentingan dakwah dan perjuangan Islam.

Baca juga  Cerpen: Ucapan Dalam Do'a

Islam mengoptimalkan potensi kaum perempuan dengan memberikan jaminan kehidupan dengan demikian dapat diharapkan mempu mengurangi level stres dan depresi perempuan, karena dalam keadaan apapun itu, semunya telah terjamin didalam tatanan Islam bahkan menetapkan penjaga-penjaga dan menjamin kehidupan kaum perempuan. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi SAW berkata, “Tidak ada Muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu ia merawatnya dengan baik, kecuali ia akan masuk surga.” (HR. al-Bukhari).
Hadist lain terkait hal itu: “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, dan ia menjaga mereka dengan baik dan takut kepada Allah tentang urusan mereka, maka tempat mereka adalah surga” (HR. al-Tirmidhi).

Islam telah memberikan status yang mulia bagi perempuan sehingga perempuan tidak perlu merasa kurang berharga, harus membuktikan diri dalam persaingan dengan laki-laki, yang selalu dihinggapi rasa takut gagal yang berlebihan. Hal inilah yang seharusnya dijadikan sandaran bagi para kaum feminis, yang terus menggaungkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, karena sejatinya konsep kesetaraan dalam Islam adalah keadilan diantara keduanya.

Islam tidak membatasi ruang gerak perempuan yang hanya didalam kehidupan domestik, akan tetapi juga mengakui kerja sama laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik. Perempuan-perempuan yang sedang tidak memiliki tanggung jawab domestik, seperti perempuan yang masih lajang atau kaum ibu yang anak-anaknya sudah mandiri, yang kemudian didorong untuk mengambil peran dalam kehidupan sosial masyarakat.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!