Banten, Indeks Kebahagiaan, dan Kemiskinan Ekstrem

Banten, Indeks Kebahagiaan, dan Kemiskinan Ekstrem

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Oleh: Eko Supriatno

Sabdanews.net, Opini – Indeks Kebahagiaan di Banten menurun di sisa masa jabatan WH-Andika. Publik tentunya mengkritik jargon WH-Andika “Banten yang Maju, Mandiri, Berdaya Saing, Sejahtera dan Berakhlakul Karimah”. Artinya, Pak WH tak bisa menunaikan janji kampanye pada saat mereka maju sebagai Gubernur. Artinya, bahwa slogannya yang selalu didengungkan ketika kampanye tapi fakta di akhir masa jabatan bukan meningkat justru menurun. Ini menandakan bahwa kinerja Pak WH dalam rangka mencapai tujuan membahagiakan warganya tidak sampai. Jargon bahagia warganya gagal total di akhir masa jabatannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa Provinsi Banten sebagai daerah paling tidak bahagia di antara 34 provinsi seluruh Indonesia. Hal itu berdasarkan hasil Survei Tingkat Kebahagiaan Penduduk Indonesia tahun 2021. Dalam survei tersebut, Banten menempati urutan paling buncit dengan angka 68,08 poin dengan di atasnya ada Bengkulu dan Papua. Hasil ini mirip dengan survei pada tahun 2017 yang juga menempatkan Banten daerah paling tidak bahagia dengan skor 68,83 poin.

BPS mengatakan tingkat kebahagiaan penduduk Indonesia 2021 diukur dari tiga dimensi yakni kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect) dan makna hidup (eudaimonia). Survei yang dirilis pada 1 Januari 2022 itu dilaksanakan secara serentak di semua kabupaten atau kota di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Asumsi penulis, turunnya indeks kebahagiaan warga Banten tak terlepas dari peran pelayanan publik pemerintahannya. Ya, ujung tombak pemerintahan paling depan adalah pelayanan masyarakat. Itu merupakan kepuasan batin yang harus ditunaikan sebagai kewajiban Pememerintah dalam memberikan pelayanan publik.

Senyum sapa pejabat kita, pelayanan kita ASN kita makin hari makin menurun. Coba ke kelurahan atau desa dan kecamatan, tidak seramah zaman dulu. Ini kan soal rasa ketika dilayani. Di sisi lain, kita memaklumi jika penurunan indeks kebahagiaan dari sisi makna hidup. Hal itu, berdampak akibat masa pandemi Covid 19.

Publik tentunya berharap dan meminta agar WH-Andika semakin memuliakan warga Banten. Sisa jabatan beberapa bulan ke depan masih bisa dioptimalkan untuk warga Banten. Kalau mengejar indeks kepuasan agar bahagia warganya masih punya harapan walaupun hitungan dalam kewenangan Pak WH membuat kebijakan tinggal beberapa bulan.

Baca juga  UIN SMH Banten Menggelar Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) 2021

Pengangguran dan Kemiskinan Ekstrem

Kata bahagia sedang asyik jadi bahan diskusi mulai dari persepsi hingga indeks. Asumsi penulis ada hitung-hitungannya indeks kebahagiaan sebuah kota, dan setidaknya ada 2 (Dua) hal biang keladi dari Indeks Kebahagiaan sebuah kota

Pertama, Persoalan Pengangguran. Pemprov Banten selama ini telah berupaya mengatasi permasalahan pengangguran dengan beragam instrumen kebijakan. Namun, sepertinya untuk masalah pengangguran ini harus ada upaya dan kesigapan berlebih dari pemerintah serta tersedianya dana khusus yang dipersiapkan untuk menanggulangi masalah tersebut. Banten merupakan salah satu kantong pengangguran di wilayah Jawa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) di provinsi ini sebesar 8,98% pada Agustus 2021, turun 3 basis points (bps) dibanding Februari 2021 dan juga menyusut 166 bps dari Agustus 2020. Meskipun TPT Banten menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya, tetapi angka pengangguran di provinsi hasil pemekaran dari Jawa Barat itu masih tetap tinggi. Pengangguran di Banten berada di urutan ketiga tertinggi nasional di bawah Kepulauan Riau dengan TPT sebesar 9,91% dan Jawa Barat 9,82%. Pengangguran Banten melandai seiring turunnya jumlah penduduk yang terdampak Covid-19.
Jumlahnya sebanyak 626 ribu jiwa menjadi 1,22 juta jiwa pada Agustus 2021 dibanding pada Agustus 2020 yang mencapai 1,85 juta jiwa.
Mengatasi masalah pengangguran, memang bukan problem yang gampang karena hal tersebut merupakan problem struktural yang akan terus terjadi dalam kehidupan perekonomian suatu daerah. Membuat angka pengangguran menjadi hilang sama sekali merupakan suatu hal yang mustahil. Namun, paling tidak ada beberapa hal mendesak yang bisa dilakukan pemerintah maupun swasta untuk menekan dampak dari pengangguran ini.

Upaya pemerintah untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi sudah merupakan langkah yang relevan dan benar karena dengan bertumbuhnya perekonomian, penyerapan tenaga kerja otomatis akan terjadi dan akan menekan angka pengangguran. Namun, dalam situasi perekonomian yang melambat serta telanjur terjadi peningkatan jumlah penganggur, langkah yang bisa ditempuh adalah secepatnya melakukan mitigasi dan pemetaan terhadap para penganggur tersebut, utamanya mereka yang menganggur akibat perlambatan ekonomi.

Baca juga  Kedekatan Imam Ali dan Rasulullah SAW

Dalam teori-teori ekonomi klasik, dijelaskan bahwa pemerintah bisa berperan sangat penting untuk menghidupi para penganggur tersebut. Caranya adalah dengan memberikan pekerjaan yang bersifat ad hoc agar mereka tetap mempunyai penghasilan untuk bertahan hidup. Ekstremnya dalam situasi pengangguran yang parah, pemerintah bisa mempekerjakan mereka untuk menggali lubang, kemudian mereka diminta lagi menutup lubang tersebut, dan mereka diupah untuk pekerjaan tersebut. Intinya, pemerintah menyantuni mereka dengan dana-dana darurat entah dari mana saja sumbernya. Sebetulnya banyak sekali program yang bisa dilakukan untuk menolong para penganggur, baik yang berdomisili di pedesaan maupun perkotaan, yakni berupa program padat karya yang dikaitkan dengan program pro rakyat dalam Nawacita. Misalnya mempercepat program pembangunan waduk serta embung yang mempekerjakan mereka; mempercepat pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, yang juga mengaryakan mereka.

Untuk kota-kota besar seperti Banten, pemerintah bisa memperlancar dan memperbesar bahkan meniru program perusahaan ojek berbasis aplikasi yang terbukti mampu menjadi safety valve pengangguran di perkotaan. Intinya, uang berlebih dialirkan kepada mereka yang kehabisan uang akibat kehilangan pekerjaan sehingga mereka bisa tetap terus mendapat penghasilan dan dapat terus bertahan hidup.

Kedua, Persoalan Kemiskinan Ekstrem. Masalah utama mengatasi kemiskinan ekstrem bukan soal anggaran. Menurut penulis, anggaran yang ada di kementerian/lembaga dan pemerintah daerah cukup besar. Tantangan terbesar saat ini, adalah bagaimana membuat program-program penanggulangan kemiskinan menjadi konvergen dan terintegrasi untuk menyasar sasaran yang sama.

Konvergensi ini penting untuk memastikan berbagai program terintegrasi mulai dari saat perencanaan sampai pada saat implementasi di lapangan, sehingga dapat dipastikan diterima oleh masyarakat yang berhak. Konvergensi yang dimaksud adalah upaya untuk memastikan agar seluruh program penanggulangan kemiskinan ekstrem mulai dari tahap perencanaan, penentuan alokasi anggaran, penetapan sasaran, dan pelaksanaan program tertuju pada satu titik atau lokus yang sama baik itu secara wilayah maupun target masyarakat yang berhak. Dalam mengupayakan penanggulangan kemiskinan ekstrem, pemerintah harus berkomitmen untuk mempercepat pelaksanaannya. Salah satunya dengan menambah alokasi anggaran yang secara khusus diprioritaskan untuk dapat menjangkau sasaran yang tepat, yaitu kelompok masyarakat miskin ekstrem di masing-masing kabupaten prioritas, diperlukan pemutakhiran data kelompok penerima manfaat (KPM) bantuan sosial tunai tersebut. Gubernur dan para bupati agar juga memperkuat perencanaan dan penganggaran program pengurangan kemiskinan ekstrem dalam APBD masing-masing, khususnya yang terkait dengan karakteristik masyarakat di wilayahnya masing-masing.

Baca juga  Anggota DPRD Provinsi Banten Fraksi PKS Kecam Tindakan Oknum Yang Jadikan Al-Quran Sebagai Pembungkus Petasan

Akibat ketimpangan yang semakin melebar itu, angka kemiskinan pun ikut terkerek naik. Realitas ketimpangan tersebut jelas membutuhkan terobosan sekaligus afirmasi kebijakan dalam program pengentasan kemiskinan.
Pembukaan ruang-ruang akses dan pemberdayaan dalam soal teknologi, penciptaan akses lapangan kerja yang berkualitas, pelatihan-pelatihan yang membuat masyarakat mempunyai skill, serta iklim investasi di sektor riil yang mampu menyerap tenaga kerja adalah beberapa hal yang dalam jangka pendek harus segera dilakukan. Sebuah posisi keberpihakan yang tak bisa ditawar adalah bahwa negara melalui kebijakan publiknya harus mampu menjebol kebuntuan-kebuntuan dalam seluruh dimensi pembangunan. Hal ini agar ketimpangan tak menjadi problem akut yang justru menjadi virus ganas pembangunan dan kita terjebak dalam sangkar besi pembangunan itu sendiri. Kondisi tersebut jelas menunjukkan ketidakmampuan pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola anggaran dengan tepat dan menempatkan prioritas pembangunan di urutan pertama. Anggapan dan pola pikir kota lebih menjanjikan memang sudah saatnya diubah.

Ya, tidak ada yang salah ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil pendataan tentang indeks kebahagiaan masyarakat. Meski disadari soal kebahagiaan adalah isu yang sangat subjektif dan bergantung pada tiap-tiap individu, perbedaan penafsiran jawaban responden seyogianya tidak terlalu berbeda.

Masalahnya di sini, tidak sekadar apakah mereka bahagia atau tidak, tetapi yang tidak kalah penting ialah apa penyebab mereka bahagia atau kurang bahagia.

Data tentang indeks kebahagiaan yang dirilis BPS ini adalah hasil pemetaan lapangan. Melalui acuan data seperti indeks kebahagiaan, maka pemerintah akan dapat memahami apa situasi problematik yang terjadi di lapangan. Dengan data ini pemerintah (daerah) akan dapat menyusun program pembangunan yang tepat, yang berorientasi pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Eko Supriatno
Dosen UNMA Banten, Pekerja sosial di Laboratorium Sosial, Direktur pada Banten Religion and Culture Center (BRCC) dan Pembina pada Future Leader for Anti Corruption (FLAC) Regional Banten.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!