Pasangan Terbaik: Memberi dan Menerima

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabanews.net, Opini – Pasangan yang terbaik adalah “memberi dan menerima”.
Dalam hidup kedua konsep ini adalah satu hal yang niscaya, semua orang bisa merasakannya. Semua orang pernah memberi dan menerima. Tidak ada satu orang pun yang dalam hidupnya hanya cuma memberi dan juga tidak ada satu orang pun yang dalam hidupnya cuma menerima. Manusia memiliki dua konsekuensi itu, memberi dan menerima. Ini berlaku untuk siapa pun.

Mengapa demikian? Saat kita memberi bukankah yang kita beri itu adalah hasil dari pemberian orang lain. Saat itu juga kita menjadi penerima. Lantas siapa yang memberi tapi tidak dari pemberian orang lain? Tuhan.
Jadi, hanya Tuhan yang memberi tapi tidak dari pemberian yang lain. Karena, Tuhan adalah sebab atas segala bentuk pemberian.
Kembali kepada konsep di atas bahwa manusia berkonsekuensi selalu memberi dan menerima.

Baca juga  Menjelang Idul Fitri : Harga Pangan VS Ketahanan Pangan Provinsi Banten

Terkadang, ada satu hal yang menurut sebagian orang bahwa yang memberi adalah yang lebih baik daripada yang menerima. Tentu konsep ini tidak salah. Tapi, tidak melulu yang memberi akan selalu menjadi pemberi dan penerima akan selalu menjadi penerima. Jadi, yang betul menurut saya adalah manusia harus sadar bahwa dirinya adalah makhluk pemberi dan penerima. Jadi, dua-duanya adalah konsekuensi kemanusiaan.

Jadi, konsepnya adalah pemberi yang baik adalah penerima yang baik dan penerima yang baik adalah pemberi yang baik.
Ada satu hal lain yang menarik bahwa, setiap memberi pasti selalu bertambah apalagi yang menerima. Saya beri ilustrasi dengan konsep guru dan murid. Guru yang baik saat ia akan mengajar pastilah ia mengisi otaknya dengan pengetahuan. Saat ia mengisi otaknya dengan pengetahuan saat itu pulalah ilmunya bertambah, artinya sebelum guru itu memberi ilmu terlebih dahulu ia harus mengisi (menambah) otaknya. Bagaimana bisa memberi tapi tidak ada yang akan diberikan. Murid dalam hal ini akan berperan menjadi penerima. Konsekuensinya penerima adalah bertambahnya sesuatu, dalam hal ini adalah ilmu. Sebetulnya pada saat terjadi kontak antara guru dan murid saat itulah keduanya saling memberi dan menerima sekaligus saling menambah.

Baca juga  Kasus Korupsi Hibah Ponpes di Banten Memasuki Babak Baru

Akan ada banyak hal yang kita dapat jika kesadaran ini muncul dalam diri setiap orang. “Minimal yang memberi tidak merasa jumawa dan yang menerima tidak pula merasa rendah.”

Saat orang merasa jumawa kala memberi berarti ia sedang tidak sadar bahwa dirinya juga penerima, sekalipun itu adalah hasil kerja kerasnya. Tapi juga menjadi masalah jika penerima tidak sadar bahwa dirinya juga adalah pemberi. Nah, inilah tantangan untuk setiap yang menerima. Kalau kembali kepada ilustrasi di atas, antara guru dan murid. Murid sebagai penerima ia harus berkewajiban memahami pemberian itu (ilmu) dengan cara mengamalkan dan memberikan kembali kepada regenerasinya. Dalam hidup akan selalu demikian.

Baca juga  Banten, Indeks Kebahagiaan, dan Kemiskinan Ekstrem

Kembali kepada pernyataan saya di atas bahwa pemberi sejati adalah Tuhan. Tuhan menjadi sebab atas segala macam pemberian. Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan yang berperan sebagai penerima. Etika yang baik bagi setiap penerima adalah menggunakannya dengan bijaksana.

Ditulis Oleh: Robi Sugara (Guru Sejarah di Pondok Pesantren Al Mubarok, dan Kepala Sekolah Filsafat Averroes)

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!