Catatan Akhir Tahun 2022 Forhati Nasional : Perspektif Gender

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on tumblr

Sabdanews.net, Ruang Publik -Pengertian gender adalah berbeda dengan makna jenis kelamin. Gender itu mengarah pada laki-laki dan perempuan yang mendapatkan pelebelan sosial dengan atribut maskulin dan feminin. Menurut sosiologi dan antropologi, gender menjurus pada pembagian peran antara laki-laki dengan perempuan. Perspektif gender digunakan untuk menganalisa isu-isu dalam berbagai bidang yaitu: agama, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Adanya pemahaman tentang gender mempengaruhi, kebijakan-kebijakan, program, projek dan kegiatan lainnya yang akan dikerjakan.

Dalam pembangunan Indonesia 2022 setiap departemen selalu dituntut untuk memasukkan kebijakan-kebijakan yang memuat perspektif gender dalam setiap aturan yang dibuat. Dengan demikian diharapkan akan berakibat menumbuhkan keadilan gender. Hal ini merujuk kepada deklarasi universal hak asasi manusia dan konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Namun demikian kenyataannya kesetaraan gender yang terus menerus di kampanyekan baik di dunia Internasional maupun di dalam negeri, kenyataannya belum berhasil sepenuhnya diterapkan ke dalam kehidupan nyata. Hal itu karena makna kesetaraan gender sendiri tetap masih ada friksi dalam pemahamannya, terutama antara konsep di negara-negara barat atau negara maju dengan negara-negara berkembang.
Khususnya di Indonesia dengan mayoritas muslim, makna kesetaraan gender selalu akan mengacu pada konsep Islam yang notabene adalah sebuah keseimbangan, keserasian yang mengantarkan manusia sebagai wujud pengejewantahan rahmatan lil alamin. Pandangan Islam perempuan dan laki-laki adalah setara dalam membangun peradaban di seluruh bangsa di muka bumi ini. Islam tidak pernah merendahkan derajat perempuan dan laki-laki, Q : Al hujarat (49): 13.
Selama ini Agama dianggap jalan terjal menuju pemahaman kesetaraan gender adalah sesuatu yang keliru. Justru tradisi modern dari negara-negara Barat telah memberi pengaruh yang kuat bahkan memuat propoganda negatif yang membuat perempuan mengeluarkan seluruh kemampuannya secara bebas merdeka. Keadaan ini membuat kalangan perempuan Barat menjadi tidak terkontrol dan terkesan dieksploitasi dari berbagai lini.
Dari sanalah permasalahan-permasalahan bermunculan. Sex bebas, kekerasan, stress tinggi, kejahatan, manusia kehilangan peradaban dan berbagai hal negatif lainnya. Keadaan ini menjadi berbanding terbalik dengan tujuan awal dari kesetaraan gender yg hendak memberdayakan kemampuan perempuan.
Dalam Islam perempuan adalah ibu dalam rumah tangga dan pendidik bagi anak, Q: An Nahl (16):72. Pada surat yang lain, Q:Ali Imran (3) : 36 dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. Artinya perbedaan fungsi perempuan dan laki-laki tidaklah mungkin membuat perempuan dan laki-laki memiliki kesetaraan yang masif, karena laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia tetapi fitrahnya memiliki jenis kelamin yang berbeda. Sehingga tinjauan ini harus juga membuat kesadaran manusia, bahwa deklarasi universal hak asasi manusia, hendaknya tidak menjadi kebablasan.

Baca juga  Harapan Guru Madrasah Jelang HUT Kabupaten Serang

Secara inklusif, Islam hadir untuk mengangkat derajat perempuan dan kesetaraan gender telah tuntas pembahasannya. Sesunghuhnya yang menbedakan antara laki-laki dan perempuan adalah ketaqwaannya. Apa yang terjadi saat ini terutama disepanjang tahun 2002. Menurut data Komnas Perempuan, mereka telah menerima laporan 3014 kasus, termasuk 860 kasus kekerasan sexual di ranah publik, dan 899 kasus di tanah personal. Terjadi peningkatan 50% kekerasan terhadap perempuan dibandingkan tahun 2021.

Sebaliknya di tahun 2022 tercatat peningkatan kebijakan terhadap perspektif gender di berbagai sektor dan diperkirakan kebijakan2 ini akan terus mengalami penyempurnaan seiring dengan data-data lapangan yang membuat posisi perempuan masih termarjinalkan. Intinya Indonesia tidak bisa menerapkan kebijakan kesetaraan gender berpolakan Barat harus kembali kepada kesetaraan yang bersandar pada agama.

Effek pandemi dan pasca pandemi
Pandemi, adalah penyebaran virus covid 19 yang luar biasa, kasus pertama dilaporkan di Wuhan 31 desember 2019 dan berakhir 14 september 2022 (WHO). Kasus covid 19 ini sangat cepat menyebar ke seantero dunia, darurat kesehatan masyarakat menjadi perhatian dunia. Ada 16,6 juta orang meninggal di seluruh dunia. Indonesia ada 160 ribu orang meninggal dunia, dan Indonesia menempati urutan ke dua di Asia jumlah kematian akibat covid 19 ini.
Dampak langsung dari covid 19 adalah pada sektor kesehatan yang berimbas ke berbagai sektor lainnya. Terjadi ketimpangan luar biasa pada sektor ekonomi, berlanjut sektor sosial, budaya dan pendidikan yang berujung resesi ekonomi dunia.

Baca juga  Kasus Omicron Makin Tinggi, MUI: Sholat Jum’at Boleh Diganti Sholat Dzuhur

Angka kemiskinan 9,2% pada september 2019, naik nenjadi 9,7% pada akhir 2020, artinya akan ada orang 1,3 juta yang jatuh miskin. Diperkirakan akan meningkat menjadi 12,4%, itu artinya ada 8,5 juta orang miskin. Dari semua faktor kemiskinan maka perempuan dan anak adalah orang yang paling menderita.

Diperkirakan krisis ekonomi masih berlanjut melanda dunia dipicu faktor pandemi dan ditambah dengan perseteruan Amirika dengan Cina, ditambah serangan Rusia ke Ukraina yg menyebabkan peperangan dan masih berlangsung hingga saat ini.
Krisis ekonomi di Indonesia diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amirika. Saat awal pandemi rupiah berada pada kisaran harga 15.025 per dolar As, dan sempat menyentuh level terendahnya pada pertengahan pandemi pada harga 16,575 per dolar As dan saat ini berada pada harga15.459 per dolar As, masih terjadi pelemahan harga rupiah.
Krisis ekonomi ini berkaitan dengan keuangan negara. Meningkatnya laju inflasi dan defisit neraca devisa negara. Dengan kata lain negara kehabisan uang. Sehingga untuk menjalankan roda ekonomi negara terpaksa berhutang. Situasi ini di tambah pula dengan faktor KKN (kolusi Korupsi nepotisme) yg meningkat tajam.

Studi dampak pandemi berpengaruh pada melemahnya daya beli masyarakat, ekonomi sulit, maka rakyat pasti miskin. Pandemi ini juga berpengaruh langsung secara psikologis terhadap kesehatan mental dan emosional perempuan.
Data menunjukkan 57% perempuan mengalami peningkatan stres, akiban beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Suami dan istri, banyak kehilangan pekerjaan, berakibat tidak adanya pendapatan keluarga. Insentife yang diberikan pemerintah melalui departemen sosial banyak tidak tepat sasaran bahkan menimbulkan masalah baru, kementrian menjadi pelaku korupsinya.

Secara keseluruhan semua orang baik perempuan maupun laki-laki mengalami keterpurukan. Namun perempuan menjadi pihak yang paling menderita, karena beban ganda yang semakin meningkat selama pandemi. Beban mengelola rumah tangga dengan pengasuhan anak ditengah ketiadaan ekonomi.

Baca juga  Inspira Salurkan Bantuan Logistik Kapolri Kloter Ketiga ke Lokasi Bencana Longsor Leuwiliang Bogor

Pemberdayaan Perempuan

Kunci keberhasilan pembangunan adalah, jika pemberdayaan perempuan berhasil dilakukan. Lihatlah jumlah perempuan menurut data statistik 49,42 % dari seluruh penduduk Indonesia. Artinya secara umum jumlah perempuan dan laki- laki boleh dikatakan nyaris sama jumlahnya.
Perempuan adalah ibu, sebagai pendidik utama bagi keluarga yang akan mempresentasikan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Jika si ibu terdidik, memiliki spiritual yang baik, terpenuhi kesehatan dan ekonominya, maka akan memberi pengaruh positif bagi generasi mendatang.

Perempuan berdaya cermin kemajuan negeri. Berdaya berarti mampu mandiri diatas potensi terbaik yang melekat pada dirinya. Kemandirian dimaksud bukan hanya kemandirian dari sektor ekonomi, tetapi kemandirian yang holistik ditopang dengan kemandirian spiritual (iman dan taqwa yang kokoh). Jika perempuan berdaya akan membantu masyarakat terbebas dari keterbelakangan, kekerasan dan kemiskinan.

Oleh karena itu solusi pemberdayaan perempuan dengan menaikkan pendapatan/ ekonomi perempuan dengan berbagai cara termasuk menggerakkan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sudah tepat, asal dilakukan dengan terencana dan terukur. Tetapi peningkatan pendapatan ini akan menjadi rapuh jika tidak memiki fundamental yg kuat secara spiritual. Untuk itu pemberdayaan perempuan melalui pertumbuhan UMKM harus sinergi dengan pertumbuhan spiritual bagi perempuan Indonesia.

Terkait keterwakilan perempuan menjelang pemilu yang akan dilaksanakan pada tahun 2024, hendaknya pemberdayaan perempuan juga melek terhadap politik. Saat ini keterwakilan perempuan di legislatif belum memenuhi kuota 30 % perempuan.Diharapkan dengan keterwakilan perempuan yang maksimal akan memberi konstribusi yang sustainable untuk kepentingan perempuan khususnya dan manusia umumnya.

Harapannya tahun-tahun mendatang perempuan akan semakin berkiprah sesuai keahlian dan potensi yang dimiliki, bahwa sebagai manusia perempuan dan laki-laki memiliki kecerdasan yang harus dimaksimalkan secara positif dan tidak melupakan kodrat dan fungsi utamanya sebagai ibu.

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mari inspirasi dunia dengan pandangan brilianmu bersama Sabdanews!